Perjalanan Ke Gunung Kawi

Gunung Kawi letaknya lumayan jauh dari Kota Malang,  kurang lebih  hampir 2 jam perjalanan, melewati Kota Kepanjen Kabupaten Malang.

Dari sana, banyak petunjuk jalan menuju arah Gunung Kawi dan dari kejauhan sudah kelihatan puncak gunung. Semakin mendekatinya jalan yang kita tempuh semakin naik. Beberapa kali tanjakan dan tikungan tajam . Dari sana  hawa pegunungan sangat terasa….. begitu dingin dan menyegarkan
Sesampainya disanai, kita akan melihat tulisan  Lokasi Wisata Ritual Pesarehan Gunung Kawi Untuk mencapai lokasi tujuan, kita harus jalan kaki, kira-kira sekitar 150 sampai 200 meter. Jalan yang dilalui tidak lebar, sekitar 2 meter dengan kemiringan tanjakan lebih dari 20 derajat. . cukup melelahkan dengan berjalan kaki… hmppphhh…

Dan jangan heran, apabila di sepanjang perjalanan menuju lokasi di kiri kanan kita berderet para pengemis yang duduk berbaris sepanjang jalan dari berbagai usia, karena tempat  ini sangat ramai, baik pengunjung, toko-toko souvenir, rumah makan maupun penginapan. dan pengunjung yang paling banyak adalah mereka dari keturunan Tionghoa. (Menurut penduduk setempat , ternyata mayoritas pengunjung yang melakukan ritual adalah keturuanan Tionghoa)

Bangunan dan suasana tiongkok terasa dari banyaknya bangunan dengan arsitektur yang mirip dengan kuil, yang ternyata semua ini ada sejarahnya kenapa banyak warga Tionghoa yang mengunjungi tempat ini. Bukan hanya dari warga Jawa Timur saja, bahkan sampai manca negara.

Semakin mendekati lokasi makan, aroma dupa menyebar kemana-mana menambah suasana mistis.  Sebelum gerbang utama, berderet-deret penjual aneka kembang segar untuk sesajen dan tertulis menerima pesanan nasi tumpeng untuk selamatan

Ada pemandangan yang unik di depan makam, beberapa orang duduk di dekat pohon Dewandaru, mereka berharap mendapatkan daun atau buah yang jatuh dengan sendirinya.

MITOS

Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan (pesugihan). Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaanya, terutama menyangkut tentang kekayaan.

Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan “berkah” berziarah ke Gunung Kawi.
Biasanya lonjakan masyarakat yang melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi ( hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena ‘dikeramatkan’ dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:

1.Rumah Padepokan Eyang Sujo
Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno
Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama ‘janjam’. Mungkin ingin menganalogkan dengan air zamzam dari Padang Arafah yang memiliki aneka khasiat. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membikin seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru
Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk mendapat ‘simbol perantara kekayaan’, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet. Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.


MALAM JUMAT LEGI

Setiap malam Jumat Legi, malam meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo setiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini biasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat.

Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.

About Pipiw

http://pipiw.wordpress.com http://vividamayanti.com http://tupperwarepromoindonesia.com

Posted on 21 Mei 2011, in Gunung Kawi and tagged , , , . Bookmark the permalink. 3 Komentar.

  1. bagaimana kalau ditambah peta menuju ke gunung kawi dan tempat menginap dari low sampai high price

  2. Gimana kalau rutenya ditulis. dari arah malang mana terus kemana…nama nama daerahnya dan jalannya.

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d blogger menyukai ini: