Wisata Pantai Balekambang

Pantai Balekambang-Pulau Ismoyo

Kota Malang, yang dikenal sebagai kota dingin yang dikelilingi beberapa pegunungan, punya tempat wisata pantai juga lho… Salah satunya Pantai Balekambang yang merupakan pantai di selatan Pulau Jawa, terletak di kecamatan Bantur, kurang lebih 65 km ke arah selatan Kota Malang. Pantai ini memiliki bentang karang sejauh 2.000 m dengan lebar sekitar 200 m. Pasir putih di sana membentang sepanjang 800 m dan dibatasi oleh 2 tebing di kanan kirinya.

Di pantai ini terdapat 3 pulau kecil. Pulau-pulau ini terletak sekitar 100 m dari bibir pantai sehingga menimbulkan pesona yang lain dan membuatnya layak masuk dalam daftar tempat berlibur yang mengasyikkan.
Ketiga pulau kecil itu masing-masing diberi nama. Pulau-pulau kecil ini diberi nama Ismoyo, Anoman, dan Wisanggeni. Untuk sampai di pulau-pulau kecil ini, pengunjung bisa melewati jembatan selebar 1 m yang menghubungkan pantai ke Pulau Ismoyo dan Pulau Wisanggeni. Dari jembatan inilah Anda bisa dengan mudah menikmati dan menjelajahi keindahan yang ditawarkan pulau-pulau kecil itu.

Pantai Balekambang

Tapi sayangnya, jembatan yang utuh cuma jembatan yang menghubungkan pantai dengan Pulau Ismoyo. Di atas pulau Ismoyo inilah dibangun sebuah pura, sangat indah dan megah. Pura yang kemudian diberi nama Pura Ismoyo ini diresmikan pada Oktober 1985. Jika air sedang pasang, akan terlihat pulau yang dengan puranya yang indah mengambang di atas air. Itu pula yang membuat pantai ini kemudian diberi nama Balekambang.

Dan di pura inilah berbagai acara upacara sakral Jalanidhi Puja digelar setiap tahunnya. Masyarakat setempat juga menggelar upacara adat tahunan seperti Suroan yang banyak menarik minat wisatawan domestik maupun mancanegara untuk menyaksikan bahkan mengikutinya.

Sementara di kawasan pantai yang berdekatan dengan Pulau Anoman, terdapat pula hutan konversi. Namun untuk memasuki kawasan ini, pengunjung akan dikenai karcis tanda masuk lagi.

Terdapat pula failitas camping ground, kios cinderamata, rumah makan, kantor informasi, bungalow sangat sedeharna, mushola, dan pendopo. Sayangnya semua ini tidak dirawat dengan baik.

Untuk Mencapai Pantai Balekambang

Anda dapat memilih jalur Malang-Gondanglegi dan kemudian dilanjutkan ke kecamatan Bantur. Dari sini perjalanan dilanjutkan hingga ke desa Srigonco. Anda tidak akan mengalami kesulitan karena di setiap ruas jalan terdapat banyak rambu penunjuk arah menuju tempat ini. Anda juga bisa melalui jalur alternatif Malang-Kepanjen, lurus sampai ke kecamatan Pagak, kemudian berbelok ke kiri ke arah kecamatan Bantur.

Perjalanan Ke Gunung Kawi

Gunung Kawi letaknya lumayan jauh dari Kota Malang,  kurang lebih  hampir 2 jam perjalanan, melewati Kota Kepanjen Kabupaten Malang.

Dari sana, banyak petunjuk jalan menuju arah Gunung Kawi dan dari kejauhan sudah kelihatan puncak gunung. Semakin mendekatinya jalan yang kita tempuh semakin naik. Beberapa kali tanjakan dan tikungan tajam . Dari sana  hawa pegunungan sangat terasa….. begitu dingin dan menyegarkan
Sesampainya disanai, kita akan melihat tulisan  Lokasi Wisata Ritual Pesarehan Gunung Kawi Untuk mencapai lokasi tujuan, kita harus jalan kaki, kira-kira sekitar 150 sampai 200 meter. Jalan yang dilalui tidak lebar, sekitar 2 meter dengan kemiringan tanjakan lebih dari 20 derajat. . cukup melelahkan dengan berjalan kaki… hmppphhh…

Dan jangan heran, apabila di sepanjang perjalanan menuju lokasi di kiri kanan kita berderet para pengemis yang duduk berbaris sepanjang jalan dari berbagai usia, karena tempat  ini sangat ramai, baik pengunjung, toko-toko souvenir, rumah makan maupun penginapan. dan pengunjung yang paling banyak adalah mereka dari keturunan Tionghoa. (Menurut penduduk setempat , ternyata mayoritas pengunjung yang melakukan ritual adalah keturuanan Tionghoa)

Bangunan dan suasana tiongkok terasa dari banyaknya bangunan dengan arsitektur yang mirip dengan kuil, yang ternyata semua ini ada sejarahnya kenapa banyak warga Tionghoa yang mengunjungi tempat ini. Bukan hanya dari warga Jawa Timur saja, bahkan sampai manca negara.

Semakin mendekati lokasi makan, aroma dupa menyebar kemana-mana menambah suasana mistis.  Sebelum gerbang utama, berderet-deret penjual aneka kembang segar untuk sesajen dan tertulis menerima pesanan nasi tumpeng untuk selamatan

Ada pemandangan yang unik di depan makam, beberapa orang duduk di dekat pohon Dewandaru, mereka berharap mendapatkan daun atau buah yang jatuh dengan sendirinya.

MITOS

Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari kekayaan (pesugihan). Konon, barang siapa melakukan ritual dengan rasa kepasrahan dan pengharapan yang tinggi maka akan terkabul permintaanya, terutama menyangkut tentang kekayaan.

Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan “berkah” berziarah ke Gunung Kawi.
Biasanya lonjakan masyarakat yang melakukan ritual terjadi pada hari Jumat Legi ( hari pemakaman Eyang Jugo) dan tanggal 12 bulan Suro (memperingati wafatnya Eyang Sujo). Ritual dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Di dalam bangunan makam, pengunjung tidak boleh memikirkan sesuatu yang tidak baik serta disarankan untuk mandi keramas sebelum berdoa di depan makam. Hal ini menunjukkan simbol bahwa pengunjung harus suci lahir dan batin sebelum berdoa.

Selain pesarean sebagai fokus utama tujuan para pengunjung, terdapat tempat-tempat lain yang dikunjungi karena ‘dikeramatkan’ dan dipercaya mempunyai kekuatan magis untuk mendatangakan keberuntungan, antara lain:

1.Rumah Padepokan Eyang Sujo
Rumah padepokan ini semula dikuasakan kepada pengikut terdekat Eyang Sujo yang bernama Ki Maridun. Di tempat ini terdapat berbagai peninggalan yang dikeramatkan milik Eyang Sujo, antara lain adalah bantal dan guling yang berbahan batang pohon kelapa, serta tombak pusaka semasa perang Diponegoro.

2. Guci Kuno
Dua buah guci kuno merupakan peninggalan Eyang Jugo. Pada jaman dulu guci kuno ini dipakai untuk menyimpan air suci untuk pengobatan. Masyarakat sering menyebutnya dengan nama ‘janjam’. Mungkin ingin menganalogkan dengan air zamzam dari Padang Arafah yang memiliki aneka khasiat. Guci kuno ini sekarang diletakkan di samping kiri pesarean. Masyarakat meyakini bahwa dengan meminum air dari guci ini akan membikin seseorang menjadi awet muda.

3. Pohon Dewandaru
Di area pesarean, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewandaru, pohon kesabaran. Pohon yang termasuk jenis cereme Belanda ini oleh orang Tionghoa disebut sebagai shian-to atau pohon dewa. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman. Untuk mendapat ‘simbol perantara kekayaan’, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Untuk memanfaatkannya sebagai azimat, biasanya daun itu dibungkus dengan selembar uang kemudian disimpan ke dalam dompet. Namun, untuk mendapatkan daun dan buah dewandaru diperlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran.


MALAM JUMAT LEGI

Setiap malam Jumat Legi, malam meninggalnya Eyang Jugo, dan juga peringatan wafatnya Eyang Sujo setiap tanggal 1 bulan Suro (muharram), di tempat ini selalu diadakan perayaan tahlil akbar dan upacara ritual lainnya. Upacara ini biasanya dipimpin oleh juru kunci makam yang masih merupakan para keturunan Eyang Sujo.

Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para peziarah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat.

Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja, mereka berjalan dengan lutut.

Hingga dewasa ini pesarean tersebut telah banyak dikunjungi oleh berbagai kalangan dari berbagai lapisan masyarakat. Mereka bukan saja berasal dari daerah Malang, Surabaya, atau daerah lain yang berdekatan dengan lokasi pesarean, tetapi juga dari berbagai penjuru tanah air. Heterogenitas pengunjung seperti ini mengindikasikan bahwa sosok kedua tokoh ini adalah tokoh yang kharismatik dan populis.

Namun di sisi lain, motif para pengunjung yang datang ke pesarean ini pun sangat beragam pula. Ada yang hanya sekedar berwisata, mendoakan leluhur, melakukan penelitian ilmiah, dan yang paling umum adalah kunjungan ziarah untuk memanjatkan doa agar keinginan lekas terkabul.

Wisata Gunung Kawi

Pernah dengar nama Gunung Kawi ? Tempat ini terkenal dengan Ubi Gunung Kawi -nya… dan sebagai tempat mencari pesugihan (agar cepat kaya :D)

Gunung Kawi

LOKASI

Kawasan Gunung Kawi, terletak di ketinggian 500 sampai dengan 3000 meter di atas permukaan laut. Lokasinya  di Kecamatan Wonosari, Kabupaten Malang Jawa Timur. (kurang lebih 40 km dari Kota Malang) Kecamatan Wonosari sendiri memiliki luas hampir 67 kilometer persegi, dengan juml ah penduduk 43 ribu jiwa. Tempat ini berkembang menjadi daerah tujuan wisata ziarah sejak tahun 1980-an. Wono artinya  hutan, sedangkan Sari artinnya  inti. Namun bagi warga setempat, Wono Sari dimaksudkan sebagai pusat rezeki yang dapat menghasilkan uang secara cepat. di tempat ini terdapat obyek wisata spiritual, berupa makam Eyang Raden Mas Kyai Zakaria alias Mbah Jugo, dan Raden Mas Imam Sujono, alias Mbah Sujo.

SUASANA MAGIS

Berkunjung ke kawasan Gunung Kawi, suasana magisnya sangat terasa. Bau asap dupa tercium di mana-mana. Kawasan ini dikenal luas sebagai tempat pesugihan yang tadi disebutkan di awal Ini merupakan petilasan Prabu Sri Kameswara, lebih dikenal deng an nama keraton. Lokasinya di ketinggian 700 meter Gunung Kawi. Untuk mencapai tempat ini diperlukan perlu waktu setengah jam dari makam Eyang Bujo dan Sujo. Pada tahun 1200 masehi, lokasi ini pernah menjadi tempat pertapaan Prabu Kameswara, pangeran dari Kerajaan Kediri yang beragama Hindu, saat tengah menghadapi kemelut politik kerajaan. Konon, setelah bertapa di tempat ini, sang prabu berhasil menyelesaikan kekacauan politik di kerajaannya. Kini petilasan ini menjadi tempat pemujaan. Di kawasan ini juga terdapat beberapa tempat pemujaan lain, seperti pohon beringin tua yang berakar lima. Makam Eyang Jayadi dan Raden Ayu Tunggul Wati, keturunan Raja Kediri bertarikh 1221 masehi. Disamping itu terdapat makam juru kunci pertama Eyang Subroto, Eyang Djoyo, dan Eyang Hamit, yang juga tak luput dari mitos pesugihan. Biasanya masyarakat melakukan pemujaan pada hari Kamis Legi, Jumat Kliwon dan malam Satu Suro. Pemujaan dilakukan dengan meletakkan sesaji, membakar dupa, dan bersemedi selama berjam-jam, berhari-hari, bahkan hingga berbulan-bulan.

Pesarean Gunung Kawi

Ini merupakan areal makam Eyang Jugo dan Eyang Sujo, terletak di ketinggian 700 meter Gunung Kawi. Tempat ini dikenal sebagai pasarean Gunung Kawi. Para peziarah datang ke makam ini, terutama saat tanggal 12 bulan Suro, hari Minggu Legi serta Jumat Legi.

Tanggal 12 Suro selain Tahun Baru Islam, juga merupakan hari wafatnya Eyang Sujo. sedangkan hari Minggu Legi, diperingati sebagai hari wafatnya Eyang Jugo, dan Kamis Legi sebagai hari pemakamannya. Untuk memasuki pasarean ini, harus melewati tiga gapura, dan anak tangga sejauh 750 meter. Di setiap gapura terdapat relief perjuangan Eyang Jugo dan Sujo. Eyang Jugo, memiliki gelar Kyai Zakaria, sementara Eyang Sujo memiliki gelar Raden Mas Imam Sujono. Kedua tokoh ini, merupakan keturunan keraton Mataram, yang merupakan pengikut setia Pangeran Diponegoro, saat berjuang melawan penjajahan Belanda. Tahun 1830 saat Pangeran Diponegoro ditawan dan diasingkan Belanda, para pengikutnya, termasuk Eyang Jugo, dan Eyang Sujo, melarikan diri ke tempat ini. Sejak itulah mereka berdua tidak lagi berjuang dengan mengangkat senjata, tetapi mengubah perjuangan melalui pendidikan. Selain menyebarkan agama Islam, mereka juga memberikan penyuluhan di bidang pertanian, dan kesehatan.

TEMPAT KERAMAT

Beginilah suasana tempat keramat ini saat malam Jumat Legi. Sejak Kamis sore para peziarah telah mulai berdatangan. Mereka berasal dari berbagai tempat. Bahkan ada yang datang dari luar Pulau Jawa. Tujuan mereka satu, untuk mencari berkah di Gunung Kawi. Tidak ada persyaratan khusus untuk berziarah ke tempat ini, hanya membawa bunga sesaji, dan menyisipkan uang secara sukarela. Namun para pezirah yakin, semakin banyak mengeluarkan uang atau sesaji, semakin banyak berkah yang akan didapat. Untuk masuk ke makam keramat, para peziarah bersikap seperti hendak menghadap raja. mereka berjalan dengan lutut. Menurut RM Nanang Yuwono Hadiprojo, keturunan ke5 RM Imam Sujono. Image bahwa tempat ini sebagai tempat pesugihan adalah tidak beralasan. Tempat pesugihan itu memiliki beberapa kriteria, antara lain, tempatnya menyeramkan, jauh dari pemukiman masyarakat, dan tidak ada tempat ibadah. Sementara di tempat ini, tempatnya tidak menyeramkan, dekat dengan pemukiman masyarakat, dan banyak tempat ibadah. Sementara di luar makam, terdapat pohon yang dianggap akan mendatangkan keberuntungan. Pohon ini disebut pohon dewa ndaru, pohon kesabaran. Dari bentuknya, pohon ini mirip pohon cereme, yang diduga berasal dari negeri Cina. Eyang Jugo dan Eyang Sujo menanam pohon ini sebagai perlambang daerah ini aman.

MENUNGGU KEBERUNTUNGAN

Untuk mendapat keberuntungan, para peziarah menunggu dahan, buah dan daun jatuh dari pohon. Begitu ada yang jatuh, mereka langsung berebut. Namun, untuk mendapatkannya memerlukan kesabaran. Hitungannya bukan hanya, jam, bisa berhari-hari, bahkan berbulan-bulan. Bila harapan mereka terkabul, para peziarah akan datang lagi ke tempat ini untuk melakukan syukuran. Sepeti halnya pada malam Jumat Legi ini. Salah seorang peziarah melakukan syukuran dengan menanggap wayang kulit. Gunung Kawi memang dikenal sebagai tempat untuk mencari pesugihan. Mitos ini diyakini banyak orang, terutama oleh mereka yang sudah merasakan berkah berziarah ke Gunung Kawi

UBI GUNUNG KAWI

Oleh-oleh yang banyak dicari adalah ubi gunung kawi…  Di sepanjang jalan tersedia kios-kios yang berjualan ubi gunung kawi yang masih mentah, maupun yang sudah matang

Ubi Gunung Kawi Mentah

Ubi Matang yang dijual di Gunung Kawi

Road To Bromo : Sebuah Panduan Sederhana

Pengen Ke Bromo ?
Secara garis besar, ada 2 alternatif :

ARAH BARAT

Perjalanan bisa melalui arah barat  dari arah Pasuruan yaitu masuk dari Desa Tosari, Kabupaten Pasuruan.
Apabila dari arah Surabaya, silahkan melewati jalan ke arah Nongkojajar, ada jalan yang memandu kita ke arah Desa Tosari.

Notes :
– sesampainya di Nongkojajar, jangan lupa mampir untuk membeli susu segar, karena disini susu yang dijual benar-benar fresh karena diproses begitu disetorkan oleh petani
– kalau sampai di malam hari, silahkan mencicipi nasi goreng ati, di sebuah warung kaki lima (gerobak) di depan pasar Nongkojajar

Sesampainya di Tosari, tidak jauh lagi arah menuju Puncak Penanjakan, sekitar 17 km, atau sekitar 1 jam perjalanan.  

Tapi jangan lewatkan lho…. bertemu dengan penduduk sekitar… dan  bercengkerama dengan mereka… Kita akan diajak ngobrol dan disuguhi segelas kopi. Saran saya, jangan menolak, dan harus dihabiskan... karena itu suatu penghormatan bagi yang empunya rumah

Sayangnya, rata-rata wisatawan datang pada malam hari, sehingga melewatkan momen spesial dengan penduduk asli…

Read the rest of this entry

Masyarakat Tengger : Berbakti pada bumi, menghormati leluhur

Suku Tengger adalah sebuah suku yang tinggal di sekitar Gunung Bromo, yakni menempati sebagian wilayah Kabupaten Pasuruan, Kabupaten Probolinggo, dan Kabupaten Malang.

Mata pencaharian mayoritas penduduk  kebanyakan bertani. Mereka berkendaraan sepeda motor bila hendak ke ladang. Jika panen tiba, barulah mereka mengoperasikan jip untuk mengangkut hasil panen. Hasil panen  tidak saja disimpan di gudang-gudang yang dibangun di tengah-tengah ladang, tetapi juga dibungkus dengan karung-karung plastik dan diletakkan di tepi-tepi kebun. Hal ini untuk memudahkan pengangkutannya ke pasar. Gudang-gudang sederhana yang terbuat dari papan kayu ini sering kali menjadi tempat tinggal pada saat musim panen.

Petani Tosari

Warga Tengger pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani hortikultura. Lahan di lereng-lereng pegunungan Tengger bukan tempat bertanam padi. Di situ cocok untuk bertani tanaman sayur mayur. Kesuburan lahan di lereng-lereng perbukitan dengan kemiringan yang terjal ini tidak terlepas dari kondisi pegunungan Tengger yang berada di antara dua gunung yang masih aktif, Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Read the rest of this entry