Menjemput Matahari Lewat Ngadisari

Apabila kita berwisata ke Bromo dan melewati jalur Probolinggo-Sukapura-Cemara Lawang, kita akan melewati Desa Ngadisari.

Di sepanjang jalan kita akan disuguhi pemandangan deretan rumah penduduk yang berdiri kokoh karena kebanyakan berdinding batu. Hampirsetiap rumah memiliki kendaraan bermotor. Minimal sepeda motor. Tapi tak sedikit yang memiliki kendaraan roda empat jenis jeep.

Jeep Pengangkut Sayur di Ngadisari

Mata pencaharian mayoritas penduduk Ngadisari kebanyakan bertani. Mereka berkendaraan sepeda motor bila hendak ke ladang. Jika panen tiba, barulah mereka mengoperasikan jip untuk mengangkut hasil penen. Hasil panen penduduk
Ngadisari tidak saja disimpan di gudang-gudang yang dibangun di tengah-tengah ladang, tetapi juga dibungkus dengan karung-karung plastik dan diletakkan di tepi-tepi kebun. Hal ini untuk memudahkan pengangkutannya ke pasar.

Gudang-gudang sederhana yang terbuat dari papan kayu di ladang sering kali menjadi tempat tinggal pada saat musim panen.

Warga Ngadisari pada umumnya bermata pencaharian sebagai petani hortikultura. Lahan di lereng-lereng pegunungan Tengger bukan tempat bertanam padi. Di situ cocok untuk bertani tanaman sayur mayur. Kesuburan lahan di lereng-lereng perbukitan dengan kemiringan yang terjal ini tidak terlepas dari kondisi pegunungan Tengger yang berada di
antara dua gunung yang masih aktif, Gunung Bromo dan Gunung Semeru.

Petani Tengger dalam beberapa tahun terakhir sudah mulai mengganti dengan tanaman perdagangan, seperti
kentang , wortel, bawang daun, tomat, sawi, kol putih, kol merah dan kembang kol. Mereka tidak perlu menjual ke luar desanya karena sudah ada para pengepul yang datang dari Probolinggo, Pasuruan bahkan dari Surabaya datang untuk membeli hasil pertanian dari Tengger.

Menuju tegalan ditemani matahari pagi hari

Tanaman kentang pada umumnya bisa dipanen tiga kali dalam satu tahun, terutama di kawasan yang subur dengan kondisi musim dan cuaca yang baik. Sementara di dataran yang sangat sedikit potensi air bawah tanah, ditambah dengan kondisi cuaca yang tidak mendukung, panen hanya bisa dilakukan dua kali dalam setahun. Tanah pertanian yang berbukit-bukit curam, dengan kemiringan sampai lebih dari 45 derajat , diolah dengan sistem terasiring.Sistem ini memungkinkan, petani suku Tengger melakukan usaha budidaya tanaman. Tidak ada alat teknologi pertanian yang dipergunakan, selain cangkul dan sabit.

Selain bertani, penduduk desa juga mengelola usaha jasa pariwisata. Jip yang mereka miliki pun menjadi modal untuk angkutan wisata. Dengan kendaraan itu, para wisatawan lebih cepat dan mudah menuju Gunung Bromo atau ke Puncak
Penanjakan.

Mbah nya, yang selalu tersenyum menjawab sapaan saya setiap pagi

Dngan harga terjangkau, banyak warga yang membuka warung makan dengan menu yang menggugah selera, dan untuk menginap, warga di sana juga menjadikan rumah tinggal mereka sebagai homestay

Desa Ngadisari merupakan desa terakhir sebelum turun ke lautan pasir yang menjadi lokasi beberapa gunung seperti Gunung Bromo. Di Kaldera yang cukup luas ini masih terdapat gunung-gunung kecil seperti Gunung Batok (2.470 meter dpl ( di atas permukaan laut), Gunung Watangan (2.601 meter dpl), Gunung Widodaren (2.650 meter dpl), Gunung Kursi (2.581 meter dpl).

Udara yang dingin serta tiupan angin, membuat warga Tengger, baik pria maupun wanita, selalu tidak bisa lepas dari

kain sarung yang selalu membungkus tubuh mereka. Pada siang hari suhu udara sekitar Gunung Bromo sekitar 18 derajat Celsius, pada malam hari udara lebih dingin lagi. Maka apabila kita berkunjung ke
Desa Ngadisari disarankan membawa baju hangat, jaket, syal dan sarung tangan.

Posted on 18 Mei 2011, in Bromo and tagged , , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: