Bromo, Keindahan Alam dan Daya Magisnya

Udara dingin begitu menggigit  ketika saya  melangkah memasuki Desa Ngadisari, Kab Probolinggo yang merupakan pintu gerbang menuju kawasan wisata Bromo-Tengger-Semeru melalui Desa Ngadisari, Sukapura Kab. Probolinggo.  Namun kehangatan warga Tengger seolah mengusir hawa dingin yang mencapai 10 derajat Celcius menjelang pagi. Secangkir kopi yang disuguhkan dan keramahan warga sekitar memberikan kesan tersendiri.

Desa Ngadisari merupakan desa terakhir sebelum turun ke lautan pasir yang menjadi lokasi beberapa gunung seperti Gunung Bromo. Di Kaldera yang cukup luas ini masih terdapat gunung-gunung kecil seperti Gunung Batok (2.470 meter dpl ( di atas permukaan laut), Gunung Watangan (2.601 meter dpl), Gunung Widodaren (2.650 meter dpl), Gunung Kursi (2.581 meter dpl).

Banyak wisatawan  mengunjungi kawasan ini menjelang dini hari dengan tujuan melihat matahari terbit di Puncak Penanjakan. Untuk mencapainya tersedia mobil jeep yang dikemudikan oleh penduduk sekitar. Biayanya sekitar Rp. 300.000/mobil, dan bisa diisi sampai dengan 5 orang, ini sudah termasuk tiket masuk kawasan wisata. Supaya tidak ketinggalan momen yang sangat indah, saya harus meninggalkan kehangatan selimut saya di sebuah penginapan di Ngadisari dan berangkat pukul 03.00 pagi.  Di sekitar tempat wisata ini memang tersedia hotel dengan fasilitas lengkap, maupun penginapan yang dimiliki oleh masyarakat Tengger, yang biasanya diperuntukkan untuk keluarga maupun sekelompok wisatawan.

Dengan mata masih berat saya menumpang Jeep milik Pak Yono, seorang anggota CU, yang membawa 4 orang wisatawan asing.  Menuju Penanjakan, kami harus melalui Desa Cemoro Lawang dan kemudian menuju lautan pasir Bromo yang tampak seperti hamparan awan putih berbiaskan cahaya bulan.  Setelah menyeberang, perjalanan mendebarkan pun dimulai, jalan yang sempit, menanjak, dan berkelok-kelok memacu adrenalin, apalagi bila berpapasan dengan kendaraan lain atau menemui jalan yang berlubang. Namun Pak Yono yang sudah sangat berpengalaman menentramkan saya.

Mendekati Puncak Penanjakan, tangan saya yang sudah mulai kaku kedinginan disambut dengan secangkir kopi panas yang disuguhkan Bu Neni, istri Pak Yono yang membuka warung kopi disana. Asap mengepul dari cangkir di tangan saya berbaur dengan aroma dingin yang menyergap hidung. Disini ada deretan toko yang menyediakan makanan dan minuman hangat, belum lagi deretan penjual jagung bakar, dan stand-stand yang lagi-lagi menyediakan syal, topi dan sarung tangan. Yang menarik, begitu saya turun dari jeep, langsung disambut deretan orang-orang yang menawarkan penyewaan jaket tebal. Apabila anda tidak siap dengan hawa dingin Bromo yang menusuk, saya sarankan memanfaatkan jasa penyewaan jaket ini, karena biayanya hanya sepuluh ribu rupiah.

Melangkah menuju puncak, membuat saya agak sesak nafas karena udara dingin yang langsung menyergap. Pak Yono menyarankan saya untuk melangkah pelan-pelan menuju ratusan orang yang sudah menunggu terbitnya sang surya. Untunglah saat itu langit cerah dan tidak tertutup awan, sehingga perlahan tapi pasti setitik cahaya yang perlahan membesar mewarnai langit sehingga tampak nyata gunung-gunung di sekitar kawasan Bromo.

Puas memandangi suasana pagi, saya menuruni Puncak Penanjakan dan bergegas kembali menuju Lautan Pasir Bromo yang luasnya mencapai 10 km2.  Untuk mencapai kaki gunung Bromo dan menyaksikan kawah yang mengepul, ada dua pilihan : berjalan kaki dan menunggang kuda.  Pak Yono yang berperan juga sebagai pemandu mengatakan bahwa berjalan kaki bukan pilihan mudah, karena selain jarak yang jauh, teriknya matahari dan debu yang berterbangan membuat perjalanan akan berat. Maka saya memilih menyewa kuda dengan biaya lima puluh ribu rupiah. Sesampai di  tangga menuju Puncak Bromo saya mencoba menghitung berapa jumlah anak tangga, ternyata ada dua ratus langkah. Namun menurut beberapa pengunjung yang sudah pernah ke Bromo, jumlah anak tangganya selalu berubah, mungkin karena lelah, jadi menghitungnya salah, ada yang menyebutkan jumlah 250, ada yang menyebut 170. Tapi kemudian saya bertanya ke pemilik kuda yang saya sewa. “198 anak tangga,” jawabnya pasti.

Sesampai di Puncak Bromo yang tingginya 2.392 m dari permukaan laut, saya dapat melihat kawah Gunung Bromo yang mengeluarkan asap tebal. Begitu saya melayangkan pandangan ke bawah, terlihat hamparan lautan pasir dengan pura di tengah tengahnya, benar-benar pemandangan yang luar biasa.

Mengunjungi Kawasan Bromo mengusung daya magis yang tidak lepas dari keberadaan suku Tengger.   Disamping pemandangan alam yang indah Gunung Bromo juga memiliki daya tarik yang luar biasa karena tradisi masyarakat Tengger yang tetap berpegang teguh pada adat istiadat dan budaya yang menjadi pedoman hidupnya. Upacara Kasada terkenal hingga manca negara dan selalu ramai di hadiri turis luar negeri maupun lokal.

Mereka sangat dihormati karena mereka hidup jujur, tidak iri hati, dan tidak suka bertengkar. Masyarakat Tengger adalah keturunan Roro Anteng (putri raja Majapahit) dan Joko Seger (putera seorang brahmana). Mereka sangat menjunjung tinggi persamaan, demokrasi, dan kehidupan bermasyarakat.

Maka, jangan hanya melihat matahari terbit, melihat lautan pasir dan kawah Bromo, kemudian buru-buru pulang. Hadirlah lebih awal sehingga bisa bercengkerama dengan penduduk setempat.  Udara yang dingin serta tiupan angin, membuat warga Tengger, baik pria maupun wanita, selalu tidak bisa lepas dari kain sarung yang selalu membungkus tubuh mereka. Pada siang hari suhu udara sekitar Gunung Bromo sekitar 15 derajat Celsius, pada malam hari udara lebih dingin lagi. Maka jangan lewatkan kesempatan “nggegeni”, bercengkerama di sekitar tungku, ditemani segelas kopi khas Tengger. Sungguh nikmat, sungguh indah, sungguh menambah pengalaman hidup.

Catatan : Alternatif lain menuju Kawasan Bromo adalah melalui Nongkojajar dan menuju Desa Tosari, Kab. Pasuruan, yang berjarak sekitar 17 km dari Puncak Penanjakan. Jalan yang ditempuh cukup berkelok-kelok namun sebanding dengan pemandangan alam yang sangat indah

Tulisan ini pernah diterbitkan di Kompasiana dan Majalah PICU Inkopdit

Posted on 19 Mei 2011, in Bromo and tagged , , , , , , , , , , . Bookmark the permalink. Tinggalkan komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: